Ambil Keputusan? Aplikasikan Risk Appetite!

| March 6, 2014 | 0 Comments

 

options #2Banyak organisasi yang menyatakan bahwa telah menerapkan Enterprise Risk Management sejak lama. Namun, faktanya berbicara “lain”.

Mari kita bercermin perihal penerapan ERM di perusahaan Anda. Dalam konteks penerapan ERM di perusahaan Anda, Apakah telah terdapat penyataan yang jelas dari Dewan Direksi perihal RISK APPETITE & RISK TOLERANCE ? Cukup satu pertanyaan saja yang mungkin akan memunculkan satu pertanyaan lain. Apa bedanya Risk Appetite (Selera Risiko) dan Risk Tolerance (Toleransi Risiko) dalam konteks penerapan ERM ? Apa gunanya ? dan bagaimana mengaplikasikannya ? kita bahas tuntas kawan.

ERM kini dianggap sebagai praktek standar dalam komunitas bisnis global. Di samping itu, lembaga pemeringkat, seperti Standard & Poor’s, telah berpegang pada ERM dan mempertimbangkan ERM ketika menentukan peringkat suatu perusahaan.

Perlu dicatat, bahwa penerapan ERM dalam suatu perusahaan adalah sebuah proses kompleks yang memerlukan arah yang jelas. Mendefinisikan kemauan (willingness) dan kemampuan (ability) organisasi untuk mengambil risiko adalah langkah fundamental dalam penerapan ERM.

Risk Appetite vs Risk Tolerance

Terdapat banyak definisi dari ‘risk appetite’, tetapi semua mengarah ke berapa banyak sebuah organisasi mau mengambil risiko. Risk Appetite biasanya dibahas berkaitan dengan keputusan investasi. Investor mempertimbangkan risk appetite-nya ketika memilih berbagai pilihan investasi yang memperlihatkan perimbangan antara imbal hasil dan risiko yang berbeda.

Kembali ke konteks ERM, Risk Appetite sering didefinisikan sebagai dua suku kata yang bertujuan untuk mendeskripsikan di mana Dewan Direksi di Perusahaan menganggap dirinya berada pada suatu spektrum : kesediaan untuk mengambil atau menerima risiko – ketidaksediaan atau keengganan untuk mengambil risiko. Lebih dalam, risk appetite sering didefinisikan sebagai Jumlah risiko yang mau diambil perusahaan untuk mencapai visi atau misinya.

Apa bedanya risk appetite dengan risk tolerance ? Walaupun sering didefinisikan serupa namun risk tolerance jelas berbeda dengan terminologi risk appetite. Pendek kata, Toleransi risiko (Risk Tolerance) adalah tingkat variasi relatif yang dapat diterima terhadap pencapaian tujuan – tujuan. . . . Beroperasi dalam toleransi risiko akan memberikan suatu jaminan yang lebih besar bagi manajemen bahwa organisasi tetap berada dalam risk appetite, yang pada gilirannya kan memberikan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi bahwa organisasi akan mencapai tujuan-tujuannya.

Pernyataan Risk Appetite

Salah satu cara yang paling jitu di mana sebuah perusahaan/organisasi dapat menanamkan pertimbangan risiko ke dalam proses eksekusi strategi adalah melalui penyataan tertulis perihal risk appetite. Hal ini akan memberikan jaminan yang cukup kuat kepada para stakeholders bahwa perusahaan telah sangat paham dengan risiko-risiko yang dihadapi dan risiko-risiko tersebut berada dalam pengendalian yang tepat dan cermat.

Bukan sekedar strategi sederhana menjadi seperangkat tujuan dan mendefinisikan KPI (key performance indicator), seperti pada pendekatan Balanced Scorecard, organisasi harus mengambil langkah tambahan: mengevaluasi tingkat risiko yang bersedia mereka ambil untuk mencapai tujuan mereka. Dengan mengambil langkah ini, organisasi-organisasi telah berada pada proses pengembangan dari pendekatan terintegrasi dan selaras dengan pelaksanaan strategi yang menggabungkan risiko dan pengelolaan kinerja.

Risk Appetite bisa dinyatakan secara kuantitatif dan kualitatif, tergantung pada kualitas tingkat pengukuran risiko di suatu organisasi. Untuk lebih jelas, tengoklah perusahaan ABC yang telah memiliki pernyataan tertulis mengenai risk appetite dan risk tolerance mereka.

PT ABC menyatakan bahwa risk appetite mereka berada pada tingkat ”moderat” yang mereka definisikan menjadi :

 Target ROE sebesar 10% per tahun
 Menghindari Risiko Aset, Risiko Pasar dan Risiko Operasional Yang Berlebihan

Berdasarkan Risk Appetite mereka tersebut, PT. ABC membuat sekumpulan pernyataan perihal Risk Tolerance mereka :

 Peringkat perusahaan diperkenakan untuk berkisar antara A dan BBB
 Penyimpangan laba aktual perusahaan hanya diperkenankan maksimum sebesar minus 10% dari target yang telah ditetapkan.
 Tidak memperkenankan semua investasi yang berpotensi melenyapkan modal perusahaan lebih besar dari 10%.

Kerangka Aplikasi Risk Appetite

Sebagian besar perusahaan telah mendokumentasikan pendekatan mereka untuk manajemen risiko melalui kebijakan / prosedur / risk appetite. Namun, risk appetite belum dipahami dengan baik di banyak perusahaan sebagai alat yang memberikan acuan untuk pengambilan keputusan.

Untuk melakukan penerapan ERM yang solid, Risk appetite, Risk Tolerance harus diartikulasikan dengan jelas untuk setiap risiko. Harus ditetapkan suatu proses untuk menilai secara kontinu tingkat risk appetite perusahaan. Harus diartikulasikan dengan baik suatu proses untuk mengelola eksposur risiko yang melampaui risk appetite dalam hal ini berupa tindakan pemantauan terhadap risiko.

Intinya, risk appetite harus mencerminkan strategi bisnis , ekspektasi dari stakeholders, sifat dan karakteristik dari risiko yang diambil dan kemungkinan ‘contagion’ dari situasi risiko tertentu lintas unit organisasi. Dan adalah tanggung jawab Dewan Direksi perusahaan untuk memformulasikan dan menyetujui penetapan risk appetite dan risk tolerance. Tentu dengan mempertibangkan harapan dari semua stakeholder perusahaan.

Proses pendefinisian risk appetite ini tentu harus didahului dengan terdapatnya perangkat untuk menentukan profil risiko pada suatu perusahaan untuk semua kategori risiko (risiko pasar, risiko kredit, risiko operasional, risiko bisnis, risiko reputasi dan kepatuhan dll) yang dianggap bisa berpengaruh terhadap pencapaian obyektif perusahaan yang termaktub dalam pernyataan visi dan misi perusahaan. Semua anggota Dewan Direksi harus paham sepaham-pahamnya terhadap risiko-risiko ini perihal probabilitas terjadinya dan dampaknya jika risiko-risiko itu terjadi bagi pencapaian target-target perusahaan.

Untuk setiap risiko-risiko yang telah ditentukan untuk sampai ke meja Dewan Direksi, Mereka harus menentukan risk appetite untuk tiap-tiap risiko tersebut. Dan jika profil risiko aktual ternyata melewati risk appetite yang telah ditetapkan, Dewan Direksi diharuskan untuk mengambil tindakan-tindakan tertentu untuk membawa profil risiko dalam risk appetite perusahaan.

Risk appetite perusahaan tidaklah statis, dipengaruhi oleh banyak faktor selain risk appetite individu masing-masing anggota Dewan Direksi perusahan. Dewan direksi harus melakukan kajian terhadap pernyataan risk appetite dan risk tolerance sehingga terdapat pemahaman yang baik antara para Direksi perihal karakteristik dan besarnya risiko yang direncanakan untuk diambil perusahaan secara keseluruhan.

Beres ? belum kawan. Tugas belum selesai, artikulasi dan komunikasi risk appetite dalam konteks ERM harus dibangun menyeluruh ke setiap level, unit bisnis dan proyek-proyek pada perusahaan Anda.

Jika organisasi atau perusahaan Anda belum memiliki pernyataan yang formal perihal risk appetite, bisa jadi perusahaan Anda memiliki suatu masalah pengendalian. Tanpa pernyataan yang jelas mengenai risk appetite, para eksukutif dan manajer akan menjalankan bisnis tanpa panduan yang cukup perihal tingkat risiko yang diizinkan untuk mereka ambil atau bahkan bisa jadi membuang kesempatan yang Ada karena persepsi tingginya risiko pada aktivitas yang tadinya akan dilakukan.

So mulailah dengan visi misi perusahaan Anda, turunkan menjadi strategi dan obyektif yang lebih rinci dan tentukan target-target yang akan dicapai dan lakukan identifikasi risiko-risiko apa saja yang bisa menghambat pencapaian target tersebut. Dan Akhirnya Dewan Direksi akan menentukan risk appetite dan mengkomunikasikannya dengan jelas ke setiap level organisasi Anda. Ambil keputusan ? Aplikasikan Risk Appetite ! salam.

Tags: , , ,

Category: Articles

About the Author ()

Konsultan, Praktisi dan Pengamat Keuangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *